Rabu, 28 Februari 2018


 EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS

A.    Pengertian Model Pembelajaran Quantum

Quantum Teaching berasal dari dua kata yaitu “Quantum” yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya dan “Teaching” yang berarti mengajar. Dengan demikian maka Quantum Teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan disekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang dapat mempengaruhi kesuksesan siswa. 
Dalam Quantum Teaching terdapat tiga hal yang harus dipahami yaitu, Quantum, Pemercepatan belajar, dan fasilitasi. Quantum artinya adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Sehingga Quantum Teaching adalah upaya guru mengorkestrasikan berbagai interaksi yang berada di dalam dan di sekitar momen belajar, sehingga kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya. Interaksi-interaksi mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa, sekaligus mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain, (DePorter, 2004:5). Pemercepatan belajar berarti menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, dan keterlibatan aktif, (DePorter, 2004:5). Fasilitasi, artinya memudahkan segala hal.
Pembelajaran quantum learning adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan. Quantum learning merupakan salah satu pengajaran yang menuntut adanya kebebasan, santai, menakjubkan, menyenangkan, dan menggairahkan. Karakteristik dalam model pembelajaran quatum learning yaitu penataan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan serta menggunakan iringan musik yang disesuaikan dengan suasana hati serta menggunakan berbagai jenis musik merupakan kunci menuju quantum learning seperti musik pop, dangdut, klasik, jazz dan lain – lainMenurut Bobby DePorter & Hernacki (2004:12) belajar dengan menggunakan quantum learning akan memberikan manfaat yaitu :
1)     bersikap positif
2)      meningkatkan motivasi
3)     keterampilan seumur hidup
4)     kepercayaan diri dan
5)     sukses atau hasil belajar yang meningkat.
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan pembelajaran Quantum Teaching adalah upaya guru untuk mengorkestrasikan berbagai interakasi dalam proses pembelajaran menjadi cahaya yang melejitkan prestasi siswa, dengan menyingkirkan hambatan belajar melalui penggunaan cara dan alat yang tepat, sehingga siswa dapat belajar secara mudah dan alami (DePorter, 2002:5).

B.    Asas Utama Quantum Teaching

Pembelajaran Quantum Teaching memiliki asas utama: “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Maksud asas utama ini memberi pengertian bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba memasuki dunia yang dialami oleh siswa. Cara yang dilakukan oleh seorang guru adalah dengan mengajarkan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, maka dapat membawa mereka ke dalam dunia kita dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu. “Dunia Kita” dipeluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam ini, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.

C.     Prinsip prinsip Quantum Teaching
Pembelajaran kuantum menggunakan prinsip-prinsip yang terdiri dari lima macam, yaitu: 
a)     Segalanya Berbicara
b)     Segalanya Bertujuan
c)       Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
d)     Akui Setiap Usaha dan
e)     Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan.

D.    Ciri-ciri Quantum Teaching
Secara garis besar pembelajaran yang menggunakan model Quantum Teaching menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Penggunaan musik dengan tujuan-tujuan tertentu.
  2. Pemanfaatan ikon-ikon sugestif.
  3. Penggunaan ”stasiun-stasiun kecerdasan” untuk memudahkan siswa belajar sesuai dengan modalitas kecerdasannya.
  4. Penggunaan bahasa yang unggul.
  5. Suasana belajar yang menyenangkan dan saling memberdayakan.
E.                 Model Quantum Teaching
Model pembelajaran quantum learning merupakan model pembelajaran yang membiasakan belajar menyenangkan. Dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa sehinga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar secara menyeluruh. Quantum Learning merupakan suatu cara membelajarkan siswa yang digagas oleh DePortter. Melalui quantum learning siswa akan diajak belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih bebas menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya [3]. Model Quantum Teaching mengambil bentuk yang hampir sama dengan sebuah simponi, yang membagi unsur-unsur pembentuk simponi menjadi dua kateori, yaitu : konteks dan isi. Dalam konteks terdapat unsur lingkungan, suasana, landasan dan rancangan. Sedangkan dalam isi kita akan menemukan unsur fasilitasi, penyajian, serta keterampilan.
Adapun tujuan Quantum Teaching adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.Terdapat perbedaan antara tujuan dan prioritas.Tujuan merupakan hasil akhir yang ingin diraih. Sedangkan prioritas merupakan tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam mencapai tujuan.
Rancangan metode Quantum Teaching adalah “sistem TANDUR”. Definisinya sebagai berikut:
1.      Tumbuhkan               : Tumbuhkan minat siswa untuk belajar lebih giat
2.      Alami                          : Berikan pengalaman-pengalaman belajar secara alami
3.      Namai                         : Berikan informasi secukupnya saat minat memuncak
4.      Demonstrasikan      : Berikan kesempatan pada para siswa untuk menunjukkan hasil  kerjanya
5.      Ulangi                         : Ulangi kembali untuk memantapkan pemahaman siswa
6.      Rayakan                     : Rayakan suatu keberhasilan yang diraih siswa.

F.                 Langkah – Langkah Pembelajaran Quantum Teaching
Langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep Quantum Learning adalah dengan cara:
1.     Kekuatan Ambak ( Apa Manfaat Bagiku )
Ambak adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan [3]. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi maka keinginan untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh guru agar siswa dapat mengidentifikasi dan mengetahui manfaat atau makna dari setiap pengalaman atau peristiwa yang dilaluinya dalam hal ini adalah proses belajar.
2.     Penataan lingkungan belajar
Dalam proses belajar dan mengajar diperlukan penataan lingkungan yang dapat membuat siswa merasa aman dan nyaman, dengan perasaan aman dan nyaman ini akan menumbuhlkan konsentrasi belajar siswa yang baik. Dengan penataan lingkungan belajar yang tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa.
3.      Memupuk sikap juara
Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa, seorang guru hendaknya jangan segan-segan untuk memberikan pujian atau hadiah pada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya, tetapi jangan pula mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan memupuk sikap juara ini siswa akan merasa lebih dihargai.
4.      Bebaskan gaya belajarnya
Ada berbagai macam gaya belajar yang dipunyai oleh siswa, gaya belajar tersebut yaitu: visual, auditorial dan kinestetik. Dalam quantum learning guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan janganlah terpaku pada satu gaya belajar saja.
5.      Membiasakan mencatat
Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak hanya bisa menerima, melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang didapatkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa itu sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan simbol-simbol atau gambar yang mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri, simbol-simbol tersebut dapat berupa tulisan.
6.      Membiasakan membaca
Salah satu aktivitas yang cukup penting adalah membaca. Karena dengan membaca akan menambah perbendaharaan kata, pemahaman, menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain.
7.       Jadikan anak lebih kreatif
Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba dan senang bermain. Dengan adanya sikap kreatif yang baik siswa akan mampu menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
8.      Melatih kekuatan memori
Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar anak, sehingga siswa perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik.

G.    Lingkungan Quantum Teaching
Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang dapat memacu atau menghambat belajar, Dhoroty dalam DePorter (2000:66). Lingkungan kelas yang hangat, nyaman, rapi, bersih, dan suasana yang penuh keakraban tentunya dapat memacu semangat siswa untuk belajar akan tetapi lingkungan kelas yang sunyi, suram, dan tidak tertata tentunya dapat menghambat kegiatan belajar siswa. Oleh karena itu untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, Quantum Teaching memiliki ide-ide yang dapat digunakan diantaranya adalah sebagai berikut.
  1. Poster Afirmasi. Menggambarkan afirmasi seperti dialog internal, sehingga menguatkan keyakinan siswa untuk belajar.
  2. Warna. Warna dapat digunakan untuk memperkuat pengajaran guru dan belajar siswa.
  3. Pengaturan bangku. Pengaturan bangku dapat disusun untuk mendukung tujuan belajar. Cara guru mengatur bangku dapat memainkan peran penting dalam pengorkestrasian belajar.
  4. Musik. Guru dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik yang dapat digunakan diantaranya adalah (Mozart, Bach, Vivaldi, Handel, dan musik klasik Satie dan rachmaninof).
  5. Aroma. Guru dapat memberikan sedikit aroma wewangian dalam lingkungan kelasnya. Menurut Hirsc dalam DePorter (2000:72), manusia dapat meningkatkan kemampuan berpikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan wangi bunga tertentu.
H.   Kelebihan dan kekurangan Quantum Teaching
·         Kelebihan Quantum Teaching
a.       selalu berpusat pada apa yang masuk akal bagi siswa
b.      menumbuhkan dan menimbulkan antusiasme siswa
c.       adanya kerjasama
d.      menawarkan ide dan proses cemerlang dalam bentuk yang enak dipahami siswa
e.       menciptakan tingkah laku dan sikap kepercayaan dalam diri sendiri
f.        belajar terasa menyenangkan
g.       Ketenangan psikologi
h.      Motivasi dari dalam
i.         adanya kebebasan dalam berekspresi
j.         menumbuhkan idialisme, gairah dan cinta mengajar oleh guru.

·         Kekurangan Quuantum Teaching
a.       memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung
b.      memerlukan fasilitas yang memadai
c.       model ini banyak dilakukan di luar negeri sehingga kurang beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia, dan
d.      kurang dapat mengontrol siswa

Dari artikel diatas terdapat beberapa pertanyaan yang menurut penulis menarik untuk didiskusikan ;
1.       Bagaimana cara mengimplementasikan model Quantum Teaching dalam kurikulum 2013?
2.       Pada artikel di atas terdapat kelebihan-kelebihan model Quantum Teaching, bagaimana merencanakan pembelajaran untuk siswa dengan gaya belajar dan tipe kecerdasan yang beragam?

3.       Bagaimana cara Guru untuk menerapkan model Quantum Teaching ini secara efektif dalam pembelajaran sains di dalam kelas ? jika yang terjadi pada kelas itu adalah rata-rata siswa yang tidak termotivasi belajar, malas, cuek dan merasa pelajaran tersebut tidak penting?

Kamis, 22 Februari 2018

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA

A.  PENGERTIAN PENILAIAN
Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program pendidikan, proses belajar mengajar  dan hasil-hasil belajar.
Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar siswa tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar.
Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
  
B.    PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN

Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar.

Tujuan penilaian proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan komponen-komponen proses belajarmengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar guru, dan penilaian.

Penilaian mempunyai sejumlah fungsi di dalam proses belajar mengajar, yaitu:
1.    Sebagai alat guna mengetahui apakah siswa talah menguasai pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma dan keterampilan yang telah diberikan oleh guru.
2.    Untuk mengetahui kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
3.    Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
4.    Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
5.    Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6.    Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.

C.  KOMPONEN PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN

Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenan dengan komponen-komponen yang membentuk proses belajar-mengajar dan keterkaitan antara komponen-komponen tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi penilaian proses belajar-mengajar mencakup :

a.    Komponen tujuan instruksional
Meliputi aspek-aspek ruang lingkup tujuan, abilitas yang terkandung didalamnya, rumusan tujuan , kesesuaian dengan kemampuan siswa, jumlah dan waktu yang tersedia untuk mencapainya, kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, keterlaksanaan dalam pengajaran.
b.    Komponen bahan pengajaran
Meliputi ruang lingkupnya, kesesuaian dengan tujuan, tingkat kesulitan bahan kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya guna bagi siswa, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia, sumber-sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya, kesinambungan bahan, relevansi bahan dengan kebutuhan siswa, prasyarat mempelajarinya.
c.      Komponen siswa
Meliputi kemampuan prasyarat, minat dan perhatian, motivasi, sikap, cara belajar yang dimiliki, hubungan sosialisasi dengan teman sekelas, masalah belajar yang dihadapi, karakteristik dan kepribadian, kebutuhan belajar, indetitas siswa dan keluarganya yang erat kaitannya dengan pendidikan di sekolah.
d.    Komponen guru
Meliputi penguasaan mata pelajaran, keterampilan mengajar, sikap keguruan, pengalaman mengajar, cara mengajar, cara menilai, kemauan mengembangkan profesinya, keterampilan berkomunikasi, kepribadian , kemampuan dan kemauaan memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa, hubungan dengan siswa dan rekan sejawatnya, penampilan dirinya, keterampilan lain yang diperlukan.
e.    Komponen alat dan sumber belajar
Meliputi jenis alat dan jumlahnya, daya guna, kemudahan pengadaanya, kelengkapannya, maanfaatnya bagi siswa dan guru, cara pengunaanya. Dalam alat dan sumber belajar ini termasuk alat peraga, buku sumber, laboratorium dan perlengkapan belajar lainya.
f.     Komponen penilaian
Meliputi jenis alat penilaian yang digunakan, isi dan rumusan pertayaan, pemeriksaan dan interprestasinya, sistem penilaian yang digunakan, pelaksanaan penilaian, tindak lanjut hasil penilaian, pemanfaatan hasil penilaian, administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas dan reliabilitas soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian dan perencanaan penilaian.

D.  KRITERIA PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN

Menurut Nana Sudjana, penilaian proses belajar mengajar memiliki  kriteria, yaitu :
1.    Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum.
Kurikulum adalah   program belajar mengajar yang telah ditentukan sebagai acuan apa yang seharusnya dilaksanakan. Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat sejauh mana acuan tersebut dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-aspek :
a.    Tujuan-tujuan pengajaran.
b.    Bahan pengajaran yang diberikan.
c.     Jenis kegiatan yang dilaksanakan
d.    Cara melaksanakan jenis kegiatan
e.    Peralatan yang digunakan untuk masing- masing kegiatan.
f.     Penilaian yang digunakan untuk setiap tujuan.
  
2.    Keterlaksanaanya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan apa yang direncanakan dapat diwujudkan sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat dilihat dalam hal :
a.    Mengkodisikan kegiatan belajar siswa.
b.    Menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar.
c.     Waktu yang disediakan untuk waktu belajar mengajar.
d.    Memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa.
e.    Melaksanakan proses dan hasil belajar siswa.
f.  Menggeneralisasikan hasil belajar saat itu dan tindak lanjut untuk   kegiatan belajar   mengajar berikutnya.

3.    Keterlaksanaannya oleh siswa
Dilihat sejauh mana siswa melakukan kegiatan pembelajaran dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti, hal ini mencakup:
a.    Memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru.
b.    Semua siswa turut melakukan kegiatan belajar.
c.     Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
d.    Manfaat semua sumber belajar yang disediakan guru.
e.    Menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.

4.    Motivasi belajar siswa
Keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditujukan para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar . dalam hal :
a.    Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b.    Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya.
c.     Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
d.    Reaksi yang ditunjukan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
e.    Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

5.    Keaktifan para siswa dalam kegiatan belajar
Penilaian proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar , keaktifan siswa dapat dilihat dalam  hal :
a.    Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
b.    Terlibat dalam pemecahan masalah.
c.     Bertanya kepada teman atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi.
d.    Berusaha tahu mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
e.    Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
f.     Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
g.    Melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal yang sejenis.
h.    Kesempatan mengunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

6.    Interaksi guru dan siswa
Interaksi guru dan siswa berkenaan dengan hubungan timbal balik dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat:
a.    Tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa.
b.    Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara individual mupun secara kelompok.
c.     Dapatnya guru dan siswa tertentu dijadikan sumber belajar.
d.    Senangtiasa beradanya guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator belajar.
e.    Tampilnya guru sebagai pemberi jalan eluar manakala siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya.
f.     Adanya kesempatan mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil belajar yang diperoleh siswa.

7.    Kemampuan atau keterampilan guru mengajar
Keterampilan guru mengajar merupakan puncak keahlian guru yang professional dalam hal bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar, dll. Beberapa indikator dalam menilai kemampuan ini antara lain :
a.    Menguasai bahan pelajaran yang diajarkan kepada siswa.
b.    Terampil berkomunikasi dengan siswa.
c.     Menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan kelas.
d.    Terampil mengunakan berbagai alat dan sumber belajar.
e.    Terampil mengajukan pertanyaan, baik lisan maupun tulisan.

8.    Kualitas hasil belajar yang diperoleh siswa
Salah satu keberhasilan proses belajar-mengajar dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain:
a.    Perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.
b.    Kualitas dan kuantitas penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa.
c.     Jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan instruksional minimal 75 dari jumlah intrusional yang harus dicapai.
d.    Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam mempelajari bahan berikutnya.

Kriteria yang telah dijelaskan paling tidak dapat dijadikan pegangan oleh para penilai proses belajar mengajar agar supaya memperbaiki proses belajar mengajar dapat ditentukan ebih lanjut. Dari kriteria tersebut penilai dapat melihat bagian-bagian mana yang telah dicapai untuk kemudian dilakukan tindakan upaya memperbaikinya. Sekalipun kriteria tersebut masih umum sifatnya, para penilaian dapat dengan mudah mengembangkan dan menjabarkannya lebih lanjut sesuai dngan bidang studi atau diajarkanya. Hal ini penting mengingat setiap mata pelajaran atau bidang studi memiliki beberapa karekteristik tertentu, baik dalam hal tujuan, bahan, metode mempelajarinya, maupun sistem penilaiannya.

Dari Uraian diatas, ada beberapa pertanyaan yang menurut penulis perlu untuk didiskusikan:
1.   Dalam penilaian terdapan 2 jenis penilaian yaitu penilaian proses dan penilaian hasil, menurut pembaca apakah persamaan kedua jenis penilaian tersebut?
2.   Sepengetahuan saya, hanya ada satu intrumen penilaian proses yaitu angket bagaimana menurut pembaca apakah ada intrumen lain selain angket?
3.   Pada pembelajaran abad 21 terdapat empat kriteria yaitu 4C, bagaimana menerapkan penilaian proses ke dalam kriteria tersebut?