MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS
Gunter et al (1990:67)
mendefinisikan an instructional
model is a step-by-step procedure that leads to specific learning outcomes.
Joyce & Weil (1980) mendefinisikanmodel pembelajaran sebagai kerangka
konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalammelakukan pembelajaran. Dengan
demikian, model pembelajaran merupakan kerangkakonseptual yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikanpengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderungpreskriptif, yang
relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran. An instructional strategy is a method for
delivering instruction that is intended to help students achieve a learning
objective (Burden & Byrd, 1999:85).
Berkaitan dengan cara atau metode
apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran , seorang guru
harus terlebih dahulu memahami berbagai pendakatan, strategi, dan model
pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru
untuk dapat memilah , memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pmbelajaran
yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Model pembelajaran berbeda dengan strategi
pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model
pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep
model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan
dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran
untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan
Showers, 1992) .
Berikut
diberikan beberapa contoh model pembelajaran yang memiliki khusus sains yaitu:
1.
Model Inquiry
Training
Untuk model ini, terdapat tiga prinsip kunci, yaitu pengetahuan bersifat
tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia
mengembangkan indivualitysecara
mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip
kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga—
kemandirian, akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah.
Model inquiry training memiliki lima
langkah pembelajaran (Joyce & Weil, 1980), yaitu:
1. menghadapkan
masalah (menjelaskan prosedur penelitian, menyajikan situasi yang saling
bertentangan),
2. menemukan
masalah (memeriksa hakikat obyek dan kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya
masalah),
3. mengkaji data dan eksperimentasi (mengisolasi
variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis),
4. mengorganisasikan,
merumuskan, dan menjelaskan, dan
5. menganalisis
proses penelitian untuk memperoleh prosedur yang lebih efektif.
2.
Problem Based Learning (PBL)
Menurut Trianto (2009:93),
karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah: (1)
adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada keterkaitan antar
disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk atau karya dan
mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.
Problem
Based Learning (PBL) akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala
perangkat yang diperlukan. Pemelajar pun harus harus sudah memahami prosesnya,
dan telah membentuk kelompokkelompok kecil. Umumnya, setiap kelompok
menjalankan proses yang dikenal dengan proses tujuh langkah:
·
Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas
·
Merumuskan masalah
·
Menganalisis masalah
·
Menata gagasan secara sistematis dan menganalisis
·
Memformulasikan tujuan pembelajaran
·
Mencari informasi tambahan dari sumber lain
·
Mensistesis (menggabungkan) dan menguji informasi baru
dan membuat laporan.
3.
Project based learning
Pada
Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa karakteristik berikut ini, yaitu
:
- Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
- Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik;
- Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan;
- Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
- Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
- Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;
- Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
- Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
·
Penentuan Pertanyaan
Mendasar (Start With the Essential
Question)
·
Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
·
Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam
menyelesaikan proyek.
· Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
· Menguji Hasil (Assess the
Outcome)
· Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate
the Experience)
4. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari
pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan.
Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang
keduanya bisa konflik, kongruen, atau masing-masing berdiri sendiri. Dalam
kondisi konflik kognitif, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu:
(1) Mempertahankan
intuisinya semula,
(2) Merevisi
sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan
(3) Merubah
pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan
baru.
Model pembelajaran perubahan
konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa, 2004), yaitu:
(1) Sajian masalah
konseptual dan kontekstual,
(2) Konfrontasi
miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut,
(3) konfrontasi sangkalan
berikut strategi-strategi demonstrasi, analogi, atau contoh- contoh tandingan,
(4) Konfrontasi
pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah,
(5) konfrontasi
materi dan contoh-contoh kontekstual,
(6) konfrontasi
pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan
secara bermakna.
5.
discovery Learning
Karakteristik
dari Model Pembelajaran Discovery
Learning atau Penemuan
a) Peran
guru sebagai pembimbing;
b) Peserta
didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan;
c) Bahan
ajar disajikan dalam bentuk informasi dan peserta didik melakukan kegiatan
menghimpun, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, serta
membuat kesimpulan.
Langkah - langkah Model Pembelajaran Discovery Learning:
1. Menentukan
tujuan dari pembelajaran
2. Menganalisis/mengidentifikasi
karakterisitik para siswa
3. Memilih
materi pelajaran.
4. Menentukan
topik - topik yang harus dipelajari oleh peserta didik secara induktif (dari
contoh yang bersifat general)
5. Mengembangkan
suatu bahan belajar yang berupa ilustrasi, contoh - contoh, atau tugas yang
nantinya dipelajari oleh siswa.
6. Mengorganisir
topik - topik pembelajaran dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
7.
Melakukan penilaian hasil belajar dan proses.
Pertanyaan
penulis :
1.
Apakah
penerapan model pembelajaran sudah efektif pada abad ini disekolah-sekolah yang
ada? Jelaskan.
2.
Apakah
semua model pembelajaran bisaditerapkan dalam pembelajaran sains, atau hanya
model-model tertentu saja seperti diatas?
3.
Kita
tau setiap model pasti mempunyai kekurangan masing-masing. Bagaimana meminimalisir
kekurangan pada model yang akan kita gunakan?
Menyikapi pertanyaan no 1.?
BalasHapusKurang begitu efektif yg di kata kan efektif yaitu strategi yang digunakan guru untuk menciptakan pengalaman ruang kelas yang positif dan produktif. Lingkungan pembelajaran tersebut sering disebut manajemen kelas,dimana stretegi untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang efektif tidak hanya meliputi mencegah dan menanggapi perilaku yang buruk tetapi juga yang lebih penting menggunakan waktu kelas dengan baik, menciptakan atmosfer yang kondusif bagi minat dan penelitian, dan membolehkan kegiatan yang melibatkan pikiran dan imajinasi siswa. Kelas yang tidak mempunyai masalah perilaku sama sekali tidak dapat dianggap sebagai kelas yang dikelola dengan baik.
TERIMA KASIH. untuk soal nomor 3 menurut sya.
BalasHapus1. gunakan strategi pembelajaran.
2. gunakan metode pembelajaran.
model merupakan kerangka pembelajaran.ibarat sebuah frame poto untuk memperindah sebuah poto kita gunakan tau kita tambah pernak pernik.
sma halnya dengan proses pembelajaran jika dalam model pembelajaran yang kita gunakan ada kekurangan tau kendala saat proses pembelajaran guru harus lebih kreatif menggunakan metode dan strategi pembelajaran tersebut.
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan no 2.Apakah semua model pembelajaran bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, atau hanya model-model tertentu saja seperti diatas?
Menurut artikel yang saya baca semua model itu bisa di gunakan dalam pembelajaran sains. Tapi d k13 di anjurkan untuk menggunakan 4 model pembelajaran diatas.
Terima kasih
Assalamualaikum wr wb
BalasHapusMenanggapi pertanyaan kedua, sebenarnya banyak model yg bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, tinggal sesuaikan dengan materi yg akan diajarkan. Model ipa terpadu juga dapat d terapkan dalam pembelajaran sains.terimakasuh
Artikel yang menarik.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan sdri.Renny yg no.2 yaitu:Apakah semua model pembelajaran bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, atau hanya model-model tertentu saja seperti diatas?
Menurut saya,model pembelajaran seperti apapun bisa diterapkan dalam pembelajaran sains,tetapi harus disesuaikan dengan materi pelajaran dan lihat kemampuan siswa yang seperti apa yang ingin dicapai dalam pembelajaran tsb.
Terima kasih.