Selasa, 13 Februari 2018


MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS

Gunter et al (1990:67) mendefinisikan an instructional model is a step-by-step procedure that leads to specific learning outcomes. Joyce & Weil (1980) mendefinisikanmodel pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalammelakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangkakonseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikanpengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderungpreskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran. An instructional strategy is a method for delivering instruction that is intended to help students achieve a learning objective (Burden & Byrd, 1999:85). 
Berkaitan dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran , seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendakatan, strategi, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah , memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pmbelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Model pembelajaran berbeda dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992) 
Berikut diberikan beberapa contoh model pembelajaran yang memiliki khusus sains yaitu:
1.      Model Inquiry Training
    Untuk model ini, terdapat tiga prinsip kunci, yaitu pengetahuan bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivualitysecara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga— kemandirian, akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah.
Model inquiry training memiliki lima langkah pembelajaran (Joyce & Weil, 1980), yaitu:
1.    menghadapkan masalah (menjelaskan prosedur penelitian, menyajikan situasi yang saling bertentangan),
2.    menemukan masalah (memeriksa hakikat obyek dan kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya masalah),
3.     mengkaji data dan eksperimentasi (mengisolasi variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis),
4.    mengorganisasikan, merumuskan, dan menjelaskan, dan
5.    menganalisis proses penelitian untuk memperoleh prosedur yang lebih efektif.

2. Problem Based Learning (PBL)
Menurut Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah: (1) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.
Problem Based Learning (PBL) akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan. Pemelajar pun harus harus sudah memahami prosesnya, dan telah membentuk kelompokkelompok kecil. Umumnya, setiap kelompok menjalankan proses yang dikenal dengan proses tujuh langkah:
·         Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas
·         Merumuskan masalah
·         Menganalisis masalah
·         Menata gagasan secara sistematis dan menganalisis
·         Memformulasikan tujuan pembelajaran
·         Mencari informasi tambahan dari sumber lain
·         Mensistesis (menggabungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.

3.    Project based learning
Pada Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa karakteristik berikut ini, yaitu :
  1. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
  1. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik;
  1. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan;
  1. Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
  1. Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
  1. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;
  1. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
  1. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Langkah-langkah Project Based Learning
·         Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
·          Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
·         Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
·      Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
·      Menguji Hasil (Assess the Outcome)
·      Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

4.   Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
      Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik, kongruen, atau masing-masing berdiri sendiri. Dalam kondisi konflik kognitif, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu:
(1)   Mempertahankan intuisinya semula,
(2)   Merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan
(3)   Merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru.

Model pembelajaran perubahan konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa, 2004), yaitu: 
(1)   Sajian masalah konseptual dan kontekstual,
(2)   Konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut,
(3)    konfrontasi sangkalan berikut strategi-strategi demonstrasi, analogi, atau contoh- contoh tandingan,
(4)    Konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah,
(5)    konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual,
(6)     konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna.
5. discovery  Learning
Karakteristik dari Model Pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan
a) Peran guru sebagai pembimbing;
b) Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan;
c) Bahan ajar disajikan dalam bentuk informasi dan peserta didik melakukan kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, serta membuat   kesimpulan.
Langkah - langkah Model Pembelajaran Discovery Learning:
1.      Menentukan tujuan dari pembelajaran
2.      Menganalisis/mengidentifikasi karakterisitik para siswa
3.      Memilih materi pelajaran.
4.      Menentukan topik - topik yang harus dipelajari oleh peserta didik secara induktif (dari contoh yang bersifat general)
5.      Mengembangkan suatu bahan belajar yang berupa ilustrasi, contoh - contoh, atau tugas yang nantinya dipelajari oleh siswa.
6.      Mengorganisir topik - topik pembelajaran dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
7.      Melakukan penilaian hasil belajar dan proses.
Pertanyaan penulis :
1.      Apakah penerapan model pembelajaran sudah efektif pada abad ini disekolah-sekolah yang ada? Jelaskan.
2.      Apakah semua model pembelajaran bisaditerapkan dalam pembelajaran sains, atau hanya model-model tertentu saja seperti diatas?
3.      Kita tau setiap model pasti mempunyai kekurangan masing-masing. Bagaimana meminimalisir kekurangan pada model yang akan kita gunakan?


5 komentar:

  1. Menyikapi pertanyaan no 1.?
    Kurang begitu efektif yg di kata kan efektif yaitu strategi yang digunakan guru untuk menciptakan pengalaman ruang kelas yang positif dan produktif. Lingkungan pembelajaran tersebut sering disebut manajemen kelas,dimana stretegi untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang efektif tidak hanya meliputi mencegah dan menanggapi perilaku yang buruk tetapi juga yang lebih penting menggunakan waktu kelas dengan baik, menciptakan atmosfer yang kondusif bagi minat dan penelitian, dan membolehkan kegiatan yang melibatkan pikiran dan imajinasi siswa. Kelas yang tidak mempunyai masalah perilaku sama sekali tidak dapat dianggap sebagai kelas yang dikelola dengan baik.

    BalasHapus
  2. TERIMA KASIH. untuk soal nomor 3 menurut sya.
    1. gunakan strategi pembelajaran.
    2. gunakan metode pembelajaran.
    model merupakan kerangka pembelajaran.ibarat sebuah frame poto untuk memperindah sebuah poto kita gunakan tau kita tambah pernak pernik.
    sma halnya dengan proses pembelajaran jika dalam model pembelajaran yang kita gunakan ada kekurangan tau kendala saat proses pembelajaran guru harus lebih kreatif menggunakan metode dan strategi pembelajaran tersebut.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 2.Apakah semua model pembelajaran bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, atau hanya model-model tertentu saja seperti diatas?
    Menurut artikel yang saya baca semua model itu bisa di gunakan dalam pembelajaran sains. Tapi d k13 di anjurkan untuk menggunakan 4 model pembelajaran diatas.
    Terima kasih

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum wr wb
    Menanggapi pertanyaan kedua, sebenarnya banyak model yg bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, tinggal sesuaikan dengan materi yg akan diajarkan. Model ipa terpadu juga dapat d terapkan dalam pembelajaran sains.terimakasuh

    BalasHapus
  5. Artikel yang menarik.
    Saya akan menanggapi pertanyaan sdri.Renny yg no.2 yaitu:Apakah semua model pembelajaran bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, atau hanya model-model tertentu saja seperti diatas?
    Menurut saya,model pembelajaran seperti apapun bisa diterapkan dalam pembelajaran sains,tetapi harus disesuaikan dengan materi pelajaran dan lihat kemampuan siswa yang seperti apa yang ingin dicapai dalam pembelajaran tsb.

    Terima kasih.

    BalasHapus