MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN
KOLABORATIF
1.
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Ada
kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar
lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika
anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang
berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi
menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan
kehidupan jangka panjang. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning adalah
mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan
situasi dunia nyata siswa. Siswa secara bersama-sama membentuk suatu sistem
yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.
Pembelajaran
Kontekstual atau Contextual Teaching
Learning (CTL)
mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan
situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan masuk akal dan
bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman
keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa
akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru
dan belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya.
Siswa diharapkan dapat membangun pengetahuannya yang akan diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari dengan memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya
di sekolah.
Pembelajaran
kontekstual
(contextual teaching and learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang
holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran
yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan
mereka sehari-hari.
Dalam
Pembelajaran Kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh, (Elaine B.
Johnson, 2007: 65-66) yaitu:
1. Membuat keterkaitan-keterkaitan
yang bermakna
2.
Melakukan
pekerjaan yang berarti
3.
Melakukan
pembelajaran yang diatur sendiri
4.
Bekerja
sama
5.
Berpikir
kritis dan kreatif
6.
Membantu
individu untuk tumbuh dan berkembang
7.
Mencapai
standar yang tinggi, dan
8.
Menggunakan
penilaian otentik
Pembelajaran
Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan antara
materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu,
hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dari
konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, pembelajaran
Kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi.
Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks
Pembelajaran Kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima
pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri
materi pelajaran.
Kedua,
pembelajaran Kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan
antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa
dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat
mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang
dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam
memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan.
Ketiga,
pembelajaran Kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkan
pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual tidak hanya
mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana
materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi
pelajaran dalam konteks Pembelajaran Kontekstual tidak untuk ditumpuk di otak
dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Terdapat
lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
pendekatan Kontekstual:
1. Dalam Pembelajaran Kontekstual
pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang
sudah ada (activing knowledge).
Artinya, apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah
dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah
pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran yang kontekstual
adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).
Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya,
pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian
memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan yang
diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diyakini.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan
pengalaman tersebut (applying
knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya
harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap
strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk
proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Di
sisi lain, Hernowo (2005:93) menawarkan langkah-langkah praktis
menggunakan strategi pembelajaran Kontekstual
1. Kaitkan setiap mata pelajaran
dengan seorang tokoh yang sukses dalam menerapkan mata pelajaran tersebut.
2. Kisahkan terlebih dahulu
riwayat hidup sang tokoh atau temukan cara-cara sukses yang ditempuh sang tokoh
dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya.
3. Rumuskan dan tunjukkan manfaat
yang jelas dan spesifik kepada anak didik berkaitan dengan ilmu (mata
pelajaran) yang diajarkan kepada mereka.
4. Upayakan agar ilmu-ilmu yang
dipelajari di sekolah dapat memotivasi anak didik untuk mengulang dan
mengaitkannya dengan kehidupan keseharian mereka.
5. Berikan kebebasan kepada setiap
anak didik untuk mengkonstruksi ilmu yang diterimanya secara subjektif sehingga
anak didik dapat menemukan sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan
dirinya.
6. Galilah kekayaan emosi yang ada
pada diri setiap anak didik dan biarkan mereka mengekspresikannya dengan bebas.
7. Bimbing mereka untuk
menggunakan emosi dalam setiap pembelajaran sehingga anak didik penuh arti
(tidak sia-sia dalam belajar di sekolah).
2.
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIVE
Pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) adalah
proses pembelajaran yang dilakukan bersama-sama antara guru dengan siswanya.
Guru pada hakikatnya adalah pembelajar senior yang harus mentransformasikan
pengalaman belajarnya pada pembelajar junior. Guru harus membantu berbagai
kesulitan yang dihadapi oleh para siswa. Demikian pula, antara siswa dengan
siswa lainnya. Dalam konteks ini, peer
teaching atau tutorial sebaya menjadi bagian penting, yang
keuntungannya tidak semata untuk yang diajari tetapi juga untuk yang mengajari,
karena siswa yang mengajari temannya akan semakin matang penguasaannya,
sementara siswa yang diajari akan memperoleh bantuan teman sebayanya dalam
proses pemahaman bahan ajar yang mereka dipelajari. Hakikatnya, collaborative learning yakni
belajar yang saling membantu antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan
siswa lainnya.
Berkolaborasi berarti bekerja
bersama-sama dengan orang lain. Dalam praktek, pembelajaran kolaboratif bearti
mahasiswa bekerja secara berpasangan atau dalam kelompok kecil untuk mencapai
tujuan pembelajaran bersama. Dalam pembelajaran kolaboratif, setiap anggota
kelompok harus bekerja sama secara aktif untuk meraih tujuan yang telah
ditentukan. Seandainya hanya ada satu orang yang menyelesaikan tugas kelompok
sementara anggota lainnya hanya melihat, cara seperti ini tidak bisa disebut
dengan pembelajaran kolaboratif.
1.
Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar
dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.
Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan
menulis..
3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi,
mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban
tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.
Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil
pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara
lengkap.
5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak
(selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk
melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas,
siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi
tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30
menit.
6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif
melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan
yang akan dikumpulan.
7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang
telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai,
dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
MACAM-MACAM PEMBELAJARAN
KOLABORATIF
Ada banyak
macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun
praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning
pada John Hopkins University.
Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas,
yaitu:
1. Learning Together
Dalam metode
ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam
kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set
lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2.Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar
bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan
anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian
didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI)
Semua anggota
kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan
pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan
dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana
perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses
dan hasil kerja kelompok.
4.
Academic-Constructive
Controversy (AC)
Setiap anggota
kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual
yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota
sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini
mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran
kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan.
Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok
mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5.
Jigsaw
Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok
diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota
dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang
menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6.
Student Team Achievement
Divisions (STAD)
Para siswa
dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam
setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah
keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan
demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan
individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual
maupun kelompok.
7.
Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran
ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan,
khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya
adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok
bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual
(menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen.
Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8.
Team Accelerated Instruction
(TAI)
Bentuk
pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/
kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota
kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu.
Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap
pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal
tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap
pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap
tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan
pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9.
Cooperative Learning
Stuctures (CLS)
Dalam
pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa
(berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain
menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab
oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau
skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah
ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model
pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini
menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran
ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik
secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
Dalam hal ini, Penulis masih kurang memahami bagaimana keterkaitan model kontekstual dan kolaborative?
Apakah model ini tepat
digunakan dalam kurikulum 2013 revisi?
Mungkin, jika teman-teman ada
yang lebih memahami silakan tinggalkan komentar dibawah ini.
Assalamualaikum..
BalasHapusSaya pernah baca di blog model pembelajaran yang cocok untuk k 13 revisi itu adalah
1. Model discovery learning
2. Problem based learning
3. Project based learning
Kalau untuk d gunakan dalam pembelajaran itu bisa-bisa saja tapi kurang tepat bagi saya
Waalaikumsalam..
Hapusterimkasih jawaban dan sarannya walla lusia sari, benar saya juga pernah membaca tentang model" yang anda sebutkan untuk kurikulum 2013 revisi, namun yang saya ketahui kurikulum 2013 revisi sekarang tidak monoton dengan model-model yang tetapkan.
Assalamualaikum, terima kasih atas uraian materi yang diberikan. Menurut saya keterkaitan model kontekstual dan kolaboratif dapat saya uraikan seperti ini. Dalam model kolaboratif menekankan pada pentingnya interaksi diantara para siswa dalam kelompok untuk meningkatkan pemahaman masing-masing. Hal itu terdapat pada pembelajaran kolaboratif yakni didalam kelompok siswa lebih mudah dalam belajar dan bekerja sama mengerjakan latihan yang diberikan
BalasHapusbila tidak bisa mengerjakan boleh bertanya kepada teman dan tentunya dapat membuat siswa lebih mudah untuk memahami materi yang diberikan. Sedangkan pendekatan kontekstual dengan mengaitkan permasalahan yang diberikan dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari membuat siswa lebih mudah untuk memahami informasi permasalah. Sehingga penerapan pembelajaran kolaboratif kontekstual
akan membuat siswa terlibat aktif dalam mengaitkan materi akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi dan siswa menjadi terbiasa untuk saling bertukar pendapat atau interaksi berdasarkan konsep yang telah diperoleh sebelum serta saling mengaitkan antara konsep-konsep dimilikinya.
Waalaikumsalam ..
Hapusterima kasih rauda atas jawabanya, sangat membantu dalam lebih memahami keterkaitan model tersebut.
Terimakasih ulasannya,membantu untuk lebih memahami model2 pembelajaran tersebut. Namun saya masih bingung, sebagai guru yg belum mempunyai pengalaman tinggi, apakah bs maksimal model ini diterapkan? Sedangkan model ini menuntut guru utk bs mengaitkan dan mengarahkan siswa pada tujuan pembelajarannya. Kalau harus d terapkan,mungkin penulis punya saran untuk guru-guru seperti saya yg belum mempunyai banyak pengalaman dengan model ini. Terimakasih sebelumnya 😊
BalasHapusterimakasih Ranti Erfiana,
HapusTerkait pertanyaan anda menurut saya untuk guru-guru pemula bisa saja digunakan jika lebih memahami bagaimana sintak model tersebut dan jika masih mengalami kesulitan mngkin bisa dilibatkan siswa dan menambahkan sedikit media sehingga memunculkan rasa ingin tahu siswa dalam materi yang akan diajarkan
Sesuai rekomendasi Kemendikbud tahun 2013, yang di gagas oleh PUSJAKNOV ada 3 model yang direkomendasikan untuk di terapkan di sekolah Yaitu:
BalasHapusmModel discovery learning
ModelProblem based learning
ModelProject based learning
Salam
Agung Laksono
Terimakasih atas artikelnya, disini saya masih bingung bagaimana cara memaksimalkan model pembelajaran trsbt agar tidak trjdi kepasifan saat proses kbm berlangsung.
BalasHapus